Pemkab Siak Dukung Pengembangan Paludikultur Sebagai Praktik Pengelolaan Lahan Gambut Adaptif Berkelanjutan 

Rabu, 26 Agustus 2020 | 18:42:59 WIB

SIAK (RIAUSKY.COM) - Paludikultur bukanlah konsep baru dalam hal pengelolaan gambut di Kabupaten Siak. Hal ini disampaikan Asisten I Setda Kabupaten Siak Budhi Yuwono, saat membuka secara resmi  acara Webinar Pelatihan Bagi Pelatih Berbasis Lapangan, dalam Pengembangan Budidaya Berkelanjutan Paludikultur, di Ruang Meeting Harmoni 21 Hotel, Kecamatan Siak, Rabu (26/8/2020) siang.

Budhi Yuwono selanjutnya menyampaikan, bahwa pola pertanian Paludikultur sudah sejak 2015 di terapkan oleh petani Kabupaten Siak.

"Paludikultur ini sejak lama kami terapkan, tepatnya sejak tahun 2015 bagaimana kami berupaya mencegah kebakaran hutan dan lahan, dimana faktor utamanya ialah keterbatasan pengetahuan dan kemampuan petani (masyarakat) dalam mengolah lahan gambut serta pemilihan jenis tanaman yang kurang tepat", jelasnya.

Budhi Yuwono juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menggagas dan mlaksanakan Webinar Pelatihan tersebut, agar penerapan Paludikultur di Kabupaten Siak dapat dikembangkan, sehingga  masyarakat (petani) mampu mengolah lahan gambut dengan baik.

"Saya atas nama Pemerintah Kabupaten Siak tentunya sangat berterimakasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada LPPM Unri dan Badan Restorasi Gambut yang telah berinisiasi dan melaksanakan pelatihan ini. Semoga dengan adanya pelatihan dan berbagai seminar akan menjadikan pengelolaan lahan gambut di Kabupaten Siak kedepannya lebih baik", ujarnya.

Sekretatis Satgas Covid-19 Kabupaten Siak itu juga mengingatkan, agar seluruh peserta pelatihan untuk memperhatikan protokol kesehatan sbagai upaya bersama mencegah penyebaran covid-19.

"Kami berharap seluruh peserta pelatihan nantinya dapat menjadi pelopor gerakan Paludikultur di wilayah masing-masing, sehingga selain gambut dapat bermanfaat secara ekonomis bagi masyarakat sekaligus meminimalisir terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Saya juga berharap kepada kita semua agar pelaksanaan kegiatan ini dengan memperhatikan protokol kesehatan sebagai upaya kita menekan penyebaran covid-19", pungkasnya.

Sebelumnya, Dr.Haris Gunawan, Deputi IV Badan Restorasi Gambut (BRG) RI mengatakan bahwa banyak pihak beranggapan okosistem gambut memiliki produktifitas rendah, lahan marjinal, dan sulit diupayakan. Namun secara tegas Ia mengatakan bahwa ekosistem gambut nyatanya sangat mndukung pembangunan dan kehidupan masyarakat.

Haris juga menyampaikan bahwa gambut memiliki peran vital dalam mengurangi bencana hidrometeorologi. Menurutnya, hal ini didasari oleh gambut sebagai penyimpan karbon, serta rumah bagi keanekaragaman hayati.

Peran vital itulah, menurut Dr.Haris agar terus di upayakan pelestarian nya. Salah satunya mempraktikkan prinsip paludikultur dalam menjalankan kegiatan budidaya di lahan gambut, terutama pada daerah yang memiliki lahan gambut yang luas termasuk Kabupaten Siak.

Haris menekankan bahwa budidaya pada lahan gambut (termasuk di Kabupaten Siak) harus benar-benar memahami karakteristik gambut, yakni berada dalam kondisi basah dengan tinggi muka air (TMA) harus lebih tinggi dari -0.4 m sepanjang tahun.

Masih menurut Dr.Haris bahwa hingga saat ini, BRG telah mengidentifikasi spesies potensial, nilai keekonomian komoditas, serta melakukan berbagai penelitian atau uji coba di lapangan. Minimal terdapat tiga faktor penting paludikultur dapat lebih dikembangkan di Kabupaten Siak yaitu partisipasi masyarakat, keterlibatan sektor swasta/dunia usaha, dan kebijakan penataan ulang lanskap ekosistem gambut yang bersinergi.

"Kami sangat berharap peran serta Pemerintah Daerah dan masyatakat untuk bersama-sama melestarikan ekosistem gambut, salah satunya dengan mendukung restorasi gambut serta mempraktekkan sistem paludikultur dalam pengolahan lahan gambut untuk kemajuan ekonomi masyarakat," ucapnya.

Ia kemudian menjelaskan kondisi hidrologi gambut menjadi 3 bagian, yakni gambut yang tergenang sepanjang tahun, gambut yang tergenang selama musim hujan dan gambut yang sudah kering. Ia berpendapat paludikultur bisa dilakukan secara langsung pada kondisi gambut tergenang. Kondisi genangan ini menjadi faktor pembatas bagi tanaman tertentu, namun juga menjadi peluang untuk kegiatan perikanan. Dalam kondisi demikian, agrosilvofishery merupakan  bentuk adaptasi dan integrasi sumber daya dan budidaya pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menerapkan prinsip-prinsip paludikultur.

Ia juga menjelaskan setidaknya terdapat 6 jenis tanaman hortikultura adaptif genangan yang dibudidayakan, di mana cabai keriting merupakan tanaman dengan benefit cost ratio yang paling tinggi (3.3). Untuk  tanaman kehutanan terdapat Shorea balangeran yang mencapai penambahan diameter  hingga 3.15 cm/tahun dan dari sisi perikanan terdapat 13 jenis ikan lokal yang dibudidayakan dan terselamatkan dari kepunahan.

"Untuk mendorong kegiatan ekonomi  masyarakat berbasis paludikultur,  peran masyarakat sangat penting di mana Green Circular Economy Concept harus diterapkan. Membuat masyarakat kita memahami kondisi sekitarnya dan mendorong keberdayaan dan kemandirian secara lokal, menjadi kunci utama konsep ini", harapnya.

Di akhir paparannya, Dr.Haris mencontohkan berbagai ide kreatif pengembangan paludikultur oleh masyarakat, seperti peternakan bebek/kambing/sapi secara terpadu, pemanfaatan limbah organik untuk menjadi pupuk organik dan compost block, budidaya lebah, burung walet, ikan hias, pembuatan silase,  pemanfaatan serat nanas, pembuatan pelet ikan dan  albumin dari ikan rawa.

Konsep kreatif lainnya yaitu pemanfaatan purun sebagai bahan anyaman, sedotan, dan bahan makanan, pemanfaatan teratai untuk bahan tepung dan bahan piring ramah lingkungan.

Kegiatan ini juga di hadiri oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Siak, Pimpinan OPD dilingkungan Pemerintah Kabupaten Siak,dan puluhan peserta dari berbagai daerah di Kabupaten Siak. (R08)

Terkini